Ulama Polimatik dari NTB: Membaca Kembali Sosok TGH. Lalu Ibrohim


 


Sosok Equilibrium Tradisionalis Modernis

Oleh : Lalu Faqih Saiful Hadie

Dunia intelektual Islam di Nusa Tenggara Barat mungkin sering melahirkan mutiara-mutiara tersembunyi, namun sosok TGH. Lalu Ibrohim Muhammad Thoyyib adalah aosok khusus yang menakjubkan. Beliau bukan sekedar ulama konvensional, beliau adalah representasi hidup dari titik temu antara kedalaman khazanah klasik dan ketajaman rasionalitas modern. Menariknya, kejeniusan polimatik ini tidak lahir dari bangku universitas ternama, melainkan tumbuh subur di atas fondasi pendidikan formal yang hanya menyentuh tingkat menengah pertama (SMP).

 

Keterbatasan gelar formal ini justru menjadi bukti otentik dari sebuah intelegensia yang melampaui zamannya. Dalam kacamata sosiologi pendidikan, beliau adalah sosok autodidaktos sejati yang mampu mendobrak sekat-sekat kurikulum kaku. Beliau membuktikan bahwa kapasitas kognitif manusia tidak ditentukan oleh durasi di dalam kelas, melainkan oleh intensitas dialektika antara akal, teks, dan fenomena alam yang beliau tekuni sepanjang hayat.

 

Pengalaman saya sebagai murid yang berguru kepada beliau adalah sebuah perjalanan melintasi berbagai dimensi keilmuan yang awalnya saya kira saling bertolak belakang. Di satu saat, saya merasa tenggelam dalam peliknya ilmu alat seperti Nahwu, Sharf, dan Balaghah yang menjadi kunci pembuka gerbang literatur Arab klasik, tapi beliau malah mengajak berenang dengan membedah struktur bahasa itu menjadi bukan hanya sebagai kaidah komunikasi, melainkan sebagai logika sosial budaya yang sistematis dan logis.

 

Kejutan intelektual yang sesungguhnya muncul ketika beliau mulai menarik garis lurus antara teks keagamaan dengan sains modern. Saya masih teringat bagaimana beliau menjelaskan fenomena kosmologi melalui ilmu Falak (astronomi). Di tangan beliau, perhitungan gerak benda langit bukan lagi sekedar penentu waktu salat, melainkan sebuah simfoni matematika tingkat tinggi yang membuktikan keteraturan alam semesta di bawah desain Sang Khalik.

 

Ketertarikan beliau pada disiplin sains murni seperti Kimia dan Fisika juga sering kali membuat saya terperangah. Beliau mampu menjelaskan struktur atom dan hukum - hukum termodinamika dengan analogi yang sangat relevan dengan prinsip-prinsip ketauhidan. Bagi beliau, partikel subatomik dan hukum gravitasi adalah ayat-ayat kauniyah yang tertulis dalam bahasa materi, yang jika dipahami dengan benar, akan memperkuat resonansi iman di dalam dada.

 

Tidak berhenti di situ, beliau juga adalah seorang penutur sejarah yang tidak saja menghafal teks dan angka-angka tahun kejadian, tapi beliau adalah seorang navigator yang mampu membedah sejarah bukan sebagai deretan angka tahun, melainkan sebagai organisme yang hidup. Dalam diskursus Sejarah dan Perbandingan Agama, beliau tidak hanya melihat perbedaan dogmatis, namun mampu memetakan evolusi spiritualitas manusia dari zaman kuno hingga modern. Bagi beliau, setiap agama adalah lapisan arkeologis yang menyimpan memori kolektif umat manusia tentang Tuhan, moralitas, dan makna keberadaan.

 

Di bidang keilmuan yang lain, ilmu linguistik beliau juga tergolong mumpuni, mencakup spektrum yang sangat luas. Sebagai seorang Tuan Guru yang terkesan tradisionalis dengan sarung dan sendal Lily, beliau tidak hanya menguasai bahasa Arab dengan segala sintaksisnya yang luas dan rumit, beliau juga menguasai tata bahasa Inggris dengan kefasihan seorang akademisi, namun di saat yang sama mampu menyelami struktur bahasa Sanskerta yang eksotis dan penuh filosofi. Penguasaan multibahasa ini memungkinkan beliau melakukan studi komparatif yang mendalam, mencari akar kata dan pergeseran makna yang membentuk peradaban manusia.

 

Kejeniusan utama TGH. Lalu Ibrohim M. Thoyyib terletak pada kemampuannya membangun jembatan integrasi dan interkoneksi antarkeilmuan. Beliau menolak dikotomi antara "ilmu agama" dan "ilmu umum". Di matanya, semua ilmu berasal dari sumber yang sama. Dengan pendekatan ini, dalil-dalil agama yang beliau sampaikan tidak lagi terdengar dogmatis, melainkan menjadi terasa sangat kokoh karena didukung oleh hujjah-hujjah ilmiah yang empiris dan rasional.

 

Di mata saya, beliau adalah sosok Equilibrium sejati—penyeimbang antara tradisi pesantren yang mengakar kuat dengan tuntutan modernitas yang serba cepat. Saat banyak orang terjebak dalam konservatisme yang kaku atau modernisme yang tercerabut dari akar, beliau berdiri di tengah, menawarkan sintesis yang harmonis. Beliau mengajarkan bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan tradisi, dan menjadi tradisionalis tidak berarti harus buta akan sains.

 

Metode pengajaran beliau pun sangat unik. Beliau sering kali menggunakan logika matematika untuk menjelaskan kerumitan ilmu waris (faraid) atau menggunakan prinsip fisika untuk menggambarkan konsep energi dalam ibadah. Pendekatan ini membuat para muridnya memiliki cara pandang yang multidimensi, di mana setiap fenomena kehidupan selalu bisa dilihat dari berbagai sudut pandang keilmuan secara simultan.

 

Namun di balik kegemilangan otaknya, beliau tetaplah sosok yang bersahaja. Kerendah-hatiannya menjadi penyeimbang bagi kedalaman ilmunya. Beliau tidak pernah memamerkan kecerdasannya untuk menjatuhkan orang lain, melainkan menggunakannya untuk menuntun mereka yang haus akan kebenaran. Inilah yang membuat setiap sesi pengajian bersama beliau terasa seperti petualangan intelektual dan spiritual yang tak terlupakan.

 

Mata kami sembab, dunia seperti berhenti berputar ketika dokter secara resmi menyatakan kewafatan beliau di suatu Malam Jumat, bulan September 2012. Kepergian beliau di usia yang relatif muda, yakni 61 tahun, meninggalkan lubang besar yang sulit untuk ditutup kembali. Usia tersebut bagi seorang ulama dan ilmuwan sering kali dianggap sebagai masa keemasan, di mana kematangan berpikir dan kedalaman pengalaman sedang berada di puncaknya.

 

Kesedihan menyelimuti saya dan ribuan murid beliau yang lainnya. Kami kehilangan bukan sekedar guru, melainkan kompas intelektual yang selalu mampu menunjukkan arah di tengah badai disinformasi dan pendangkalan makna agama. Kepergiannya terasa begitu mendadak, seolah-olah perpustakaan besar yang berisi ribuan jilid ilmu pengetahuan baru saja terbakar habis dalam semalam.

 

Malam itu, dalam duka yang amat dalam saya menulis sebuah bait epik tentang kehidupan dan kepergian beliau : "Hampir tigaperempat dari buku catatan ini adalah onak dan duri, di atas mana sang pejuang melangkah dengan tetap tegak dan gagah. Tapi di halaman ke enampuluhsatu, kami harus tersedu bersama langit, di saat ia harus menyerah kepada taqdir, gugur moksa berkalang pengabdian, dan air mata kami tumpah meredam debu yang beterbangan."

 

Kini, warisan beliau tidak hanya tertinggal dalam lembaran catatan kami, tetapi tertanam dalam cara kami memandang dunia. Beliau telah berhasil menanamkan benih bahwa menjadi religius berarti menjadi cerdas, dan menjadi saintis berarti menjadi hamba yang tunduk. Integrasi ilmu yang beliau ajarkan adalah legasi yang akan terus kami jaga di tengah dunia yang semakin terfragmentasi ini.

 

Mengenang sosok TGH. Lalu Ibrohim Muhammad Thoyyib adalah mengenang sebuah pertemuan langka antara akal dan wahyu. Beliau telah menunaikan tugasnya sebagai jembatan ilmu, membawa murid-muridnya menyeberangi sungai ketidaktahuan menuju tepian pemahaman yang lebih luas dan tercerahkan. Kehidupannya yang singkat adalah sebuah anugerah intelektual yang tak terukur harganya bagi umat.

 

Kehilangan ini menyisakan rindu yang dalam, sebuah kekosongan yang hanya bisa diobati dengan terus menghidupkan semangat integrasi ilmu yang beliau teladankan. Kadang saya merasa beliau seperti bintang gejora, yang begitu terang mengalahkan bintang bintang yang lain, namun begitu cepat hilang lenyap ditelan oleh takdir dari Yang Maha Menggenggam jiwanya.

Lebih baru Lebih lama