Keutamaan Shalat Tarawih Malam Keenam Ramadhan dan Pentingnya Menjaga Lisan
Memasuki malam keenam Ramadhan, perjalanan ibadah sudah hampir sepekan berjalan. Tubuh mulai terbiasa dengan puasa, shalat malam pun mulai menjadi rutinitas.
Namun di sinilah tantangan yang lebih halus muncul: menjaga lisan.
Keutamaan shalat tarawih malam keenam Ramadhan bukan sekadar berdiri dan membaca ayat-ayat Allah, tetapi bagaimana ibadah itu memengaruhi sikap dan ucapan kita sehari-hari.
Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan kata-kata yang tidak baik.
Keutamaan Qiyam Ramadhan Tetap Sama Setiap Malam
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini berlaku pada seluruh malam Ramadhan, termasuk malam keenam.
Artinya, setiap tarawih yang kita lakukan dengan iman dan keikhlasan adalah peluang ampunan.
Namun agar pahala puasa dan tarawih tidak berkurang, lisan harus dijaga.
Bahaya Lisan yang Tidak Terjaga
Sering kali kita mampu menahan lapar, tetapi sulit menahan ucapan.
Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.
Artinya, menjaga lisan adalah bagian penting dari kesempurnaan puasa.
Malam Keenam: Evaluasi Ucapan Kita
Malam keenam adalah waktu yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri:
-
Apakah hari ini saya berkata kasar?
-
Apakah saya membicarakan keburukan orang lain?
-
Apakah saya menyakiti hati seseorang dengan ucapan saya?
Tarawih bukan hanya ibadah fisik, tetapi momen refleksi harian.
Jika setelah shalat kita masih mudah bergunjing dan marah, berarti ibadah kita perlu diperbaiki kualitasnya.
Cara Menjaga Lisan di Bulan Ramadhan
Berikut beberapa langkah sederhana:
1. Perbanyak Dzikir
Lisan yang sibuk berdzikir akan lebih sulit digunakan untuk berkata buruk.
2. Berpikir Sebelum Berbicara
Tanyakan pada diri sendiri:
Apakah ini benar?
Apakah ini perlu?
Apakah ini menyakiti?
Jika tidak membawa kebaikan, lebih baik diam.
3. Kurangi Perdebatan yang Tidak Perlu
Ramadhan bukan waktu untuk memenangkan argumen, tetapi untuk memenangkan hati dan memperbaiki diri.
Tarawih dan Pendidikan Akhlak
Setiap malam kita mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan.
Al-Qur’an penuh dengan ajaran tentang akhlak mulia, kesabaran, dan kebaikan lisan.
Jika kita rutin mendengarnya tetapi tidak mengamalkannya, maka kita kehilangan esensi Ramadhan.
Malam keenam adalah kesempatan untuk menyelaraskan ibadah dengan perilaku.
Lisan yang Baik, Hati yang Tenang
Ucapan yang baik membawa ketenangan.
Sebaliknya, ucapan yang buruk sering kali menimbulkan penyesalan.
Ramadhan adalah momen terbaik untuk melatih diri berbicara dengan lembut, jujur, dan penuh hikmah.
Penutup: Jadikan Tarawih sebagai Pengingat Akhlak
Keutamaan shalat tarawih malam keenam Ramadhan terletak pada dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Jika setelah tarawih kita menjadi pribadi yang lebih santun, lebih tenang, dan lebih menjaga ucapan, maka itulah tanda ibadah kita mulai membuahkan hasil.
Datanglah ke masjid membawa niat memperbaiki diri.
Pulanglah dengan tekad menjaga lisan.
Semoga Allah menjaga lisan kita dari keburukan dan menerima seluruh ibadah kita.
Aamiin.
Baca Juga:
-
Keutamaan Shalat Tarawih Malam Pertama Ramadhan: Awal Perubahan Diri
-
Keutamaan Shalat Tarawih Malam Kedua Ramadhan: Ujian Istiqamah
-
Keutamaan Shalat Tarawih Malam Ketiga Ramadhan: Momentum Taubat yang Tulus
-
Keutamaan Shalat Tarawih Malam Keempat Ramadhan: Meraih Kekhusyukan
-
Keutamaan Shalat Tarawih Malam Kelima Ramadhan: Melatih Kesabaran dalam Ibadah
