Keutamaan Shalat Tarawih Malam Kelima Ramadhan dan Makna Kesabaran dalam Ibadah
Memasuki malam kelima Ramadhan, ritme ibadah mulai terasa stabil. Tubuh sudah mulai beradaptasi dengan puasa, namun tantangan baru muncul: menjaga kesabaran.
Keutamaan shalat tarawih malam kelima Ramadhan bukan terletak pada angka malamnya, tetapi pada kemampuan kita menjaga hati, lisan, dan sikap di tengah proses ibadah yang terus berjalan.
Ramadhan adalah bulan latihan. Latihan menahan diri, mengendalikan emosi, dan memperbaiki akhlak.
Keutamaan Qiyam Ramadhan Berlaku Sepanjang Bulan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mencakup seluruh malam Ramadhan, termasuk malam kelima.
Artinya, setiap malam adalah kesempatan yang sama untuk meraih ampunan. Yang membedakan adalah kualitas iman dan kesungguhan hati.
Malam Kelima: Ujian Kesabaran
Semakin hari, ujian bukan lagi tentang semangat, tetapi tentang ketahanan.
Puasa melatih kesabaran dalam:
-
Menahan lapar dan haus
-
Menahan amarah
-
Menahan ucapan yang tidak baik
-
Menahan keinginan untuk bermalas-malasan
Saat berdiri dalam tarawih, terutama jika imam membaca cukup panjang, di situlah kesabaran benar-benar diuji.
Namun justru di situlah letak nilai ibadahnya.
Kesabaran dalam Shalat Tarawih
Kesabaran dalam tarawih bisa terlihat dalam beberapa hal:
1. Sabar dalam Berdiri Lama
Rasa lelah di kaki bukan sia-sia. Setiap detik berdiri bernilai pahala di sisi Allah.
2. Sabar Mendengarkan Bacaan Al-Qur’an
Terkadang kita ingin shalat cepat selesai. Tetapi malam kelima adalah latihan untuk menikmati setiap ayat yang dibacakan.
3. Sabar Menjaga Konsistensi
Godaan untuk beristirahat di rumah mulai muncul. Namun memilih tetap hadir di masjid adalah bentuk kemenangan melawan diri sendiri.
Ramadhan dan Pembentukan Akhlak
Tujuan utama puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi membentuk pribadi yang bertakwa.
Allah berfirman bahwa puasa diwajibkan agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa.
Takwa tercermin dalam akhlak yang baik dan kesabaran dalam menghadapi ujian.
Jika setelah lima hari Ramadhan kita masih mudah marah dan berkata kasar, berarti ada yang perlu diperbaiki.
Malam Kelima: Momentum Evaluasi Diri
Cobalah bertanya pada diri sendiri:
-
Apakah saya lebih sabar dibanding sebelum Ramadhan?
-
Apakah lisan saya lebih terjaga?
-
Apakah saya lebih lembut kepada keluarga?
Tarawih bukan sekadar ibadah malam, tetapi momen refleksi harian.
Jangan Biarkan Emosi Merusak Pahala
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ketika berpuasa, jika ada yang mengajak bertengkar, katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Ini adalah latihan pengendalian diri.
Malam kelima adalah waktu yang tepat untuk memperkuat komitmen menjaga sikap, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di lingkungan sekitar.
Penutup: Kesabaran Adalah Jalan Menuju Takwa
Keutamaan shalat tarawih malam kelima Ramadhan terletak pada proses pembentukan kesabaran dan akhlak.
Ramadhan adalah perjalanan, bukan perlombaan singkat.
Semakin sabar kita menjalaninya, semakin dalam makna yang kita rasakan.
Datanglah ke tarawih dengan hati yang tenang.
Berdirilah dengan penuh kesabaran.
Pulanglah dengan jiwa yang lebih lembut.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang sabar dan bertakwa.
Aamiin.
